It only took one fine Friday evening
A sad traffic
Small talks about Great Depression to Apollo 11
Intertwined heart and love-hurt experiences
A tiny blue speck
Two beers
Cold upper my skin
You're imperfect,
and you're wired for struggle,
but you are worthy of love and belonging
Shuffled songs
Slow dance
Embraced me, you
Kisses on forehead
"Are you happy today?"
I answered nothing, but I smiled,
one big smile from ear to ear
"You smiled. Means that you're happy."
You landed another sweet kiss on my hair
A ride to home
Tight hug inside your grey coat
Talking about paradoxes and night owls
You said you were jubilant
Arrested.
You know, I'm not in love with you
But a void inside filled
As an oxygen filled my lungs
Don't set me free
19.2.17
12.2.17
3.2.17
Nana
Maria Fumaca não canta mais
Para moças flores Janelas e quintais
Na praça vazia um grito um oi
Casas esquecidas viúvas nos portais
- Milton Nascimento
1.2.17
The Corrections by Jonathan Franzen p. 279
And when the event, the big change in your life, is simply an insight - isn't that a strange thing?
That absolutely nothing change except that you see things differently and you're less fearful and less anxious and generally stronger as a result: isn't it amazing that a completely invisible thing in your head can feel realer than anything you've experienced before?
You see things more clearly and you know that you're seeing them more clearly.
And it's come to you that this is what it means to love life, this is all anybody talks seriously about God is ever talking about.
Moments like this.
25.1.17
Tentang Karma Buruk
Karma buruk tidak seharusnya terjadi pada siapapun.
Aku sangat tidak menyukai sumpah serapah yang mendahulukan semesta seperti;
"Biarkan saja karma buruk kelak datang padanya!"
Aku tidak pernah marah bila ada orang yang menyumpahiku demikian, tapi aku tidak menyukai orang lain mengucapkan itu untuk orang yang ia tidak sukai. Menurutku, itu tindakan membenci yang tidak masuk akal.
Setiap kali aku menangis karena terluka oleh orang lain, orang-orang di sekitarku hampir semua mengatakan, "Tenang saja, suatu hari karma akan menimpanya."
"Tidak, aku tidak ingin hal buruk dan kepahitan seperti ini terjadi padanya," jawabku.
Aku tidak pernah setuju dengan hal itu karena aku selalu percaya, orang-orang yang datang dan berinteraksi denganku sudah atau akan mengalami berbagai hal dalam hidupnya.
Mungkin, kalau mereka mengalami kepahitan sepertiku, mereka tidak akan mampu melaluinya.
Atau mungkin, mereka telah mengalami kepahitan yang tidak pernah dan tidak akan pernah mampu aku alami.
Yang aku pelajari sekarang adalah bagaimana menghadapi setiap kesedihan karena orang-orang lain yang memberikanku pengalaman tidak mengenakan. Bagaimana caranya bekerja sama dengan diriku sendiri untuk tidak mengharapkan orang lain bersikap manis padaku.
Aku tahu, tidak mudah menjadi gadis tidak cantik, banyak sekali perlakuan tidak adil dan semena-mena terjadi pada gadis-gadis yang kurang menarik, tapi hal-lah buruk juga terjadi pada orang-orang yang berwajah menyenangkan. Seperti hujan yang turun bagi orang yang baik maupun jahat atau matahari yang bersinar untuk orang adil dan mereka yang curang.
Aku tahu, pemikiranku ini utopis, tapi aku tidak mau hal-hal buruk seperti apapun terjadi pada orang yang berarti untukku.
Aku sangat tidak menyukai sumpah serapah yang mendahulukan semesta seperti;
"Biarkan saja karma buruk kelak datang padanya!"
Aku tidak pernah marah bila ada orang yang menyumpahiku demikian, tapi aku tidak menyukai orang lain mengucapkan itu untuk orang yang ia tidak sukai. Menurutku, itu tindakan membenci yang tidak masuk akal.
Setiap kali aku menangis karena terluka oleh orang lain, orang-orang di sekitarku hampir semua mengatakan, "Tenang saja, suatu hari karma akan menimpanya."
"Tidak, aku tidak ingin hal buruk dan kepahitan seperti ini terjadi padanya," jawabku.
Aku tidak pernah setuju dengan hal itu karena aku selalu percaya, orang-orang yang datang dan berinteraksi denganku sudah atau akan mengalami berbagai hal dalam hidupnya.
Mungkin, kalau mereka mengalami kepahitan sepertiku, mereka tidak akan mampu melaluinya.
Atau mungkin, mereka telah mengalami kepahitan yang tidak pernah dan tidak akan pernah mampu aku alami.
Yang aku pelajari sekarang adalah bagaimana menghadapi setiap kesedihan karena orang-orang lain yang memberikanku pengalaman tidak mengenakan. Bagaimana caranya bekerja sama dengan diriku sendiri untuk tidak mengharapkan orang lain bersikap manis padaku.
Aku tahu, tidak mudah menjadi gadis tidak cantik, banyak sekali perlakuan tidak adil dan semena-mena terjadi pada gadis-gadis yang kurang menarik, tapi hal-lah buruk juga terjadi pada orang-orang yang berwajah menyenangkan. Seperti hujan yang turun bagi orang yang baik maupun jahat atau matahari yang bersinar untuk orang adil dan mereka yang curang.
Aku tahu, pemikiranku ini utopis, tapi aku tidak mau hal-hal buruk seperti apapun terjadi pada orang yang berarti untukku.
17.1.17
15.1.17
Sebeku Mawar Dalam Hiasan Resin
Kenapa kita tidak bisa memilih orang yang kita cintai?
Aku sudah memaksakannya, mencari segala macam hal-hal yang bisa kusukai darinya. Aku melihat hal-hal fundamental dari dirinya untuk ku sukai.
Pria ini secara fisik sangat menarik, cukup tinggi untuk mengimbangiku menggunakan sepatu bertumit tinggi, senyumnya sangat manis, kulitnya sedikit terbakar karena suka berolahraga, tubuhnya cukup atletis. Ia sangat ramah, berwawasan luas dan sangat sopan. Stabil dari segi finansial, pekerjaan yang baik, sudah mengantongi beberapa gelar pendidikan, menjadikan ia seseorang yang seharusnya ku sukai semudah membalikkan telapak tangan.
"Seandainya aku bisa, sedikit saja membalas perasaanmu," kataku pelan. Sangat pelan karena aku takut sekali melukainya. Pria ini seharusnya mendapatkan seorang gadis yang satu juta kali lebih daripadaku, ia sangat berhak mendapatkannya.
Ia hanya tersenyum kecil dengan tatapan nanar. Kulihat ia menyerah.
"Aku tidak bisa memaksa kan?" tanyanya yang hanya memberikan pernyataan.
"Aku sudah berusaha dan aku belum berhasil. Aku tidak mau menyakitimu meskipun aku sudah melakukannya tanpa sengaja," jawabku hampir menangis.
"Ayo, ku antar kau pulang. Biarkan aku mengerti perasaanmu. Kau sudah merelakan orang yang sangat penting buatmu, biar aku menahan sedikit keinginanku untuk bersamamu." katanya dengan lembut. Kemudian ia merangkul bahuku.
Dua hari kemudian, Pak Pos datang ke kediamanku menyampaikan sepucuk surat dan sekotak kecil hadiah berwarna biru yang ditujukan untukku. Seusai aku mengucapkan terimakasih, aku berlari ke kamarku.
Aku membuka surat tersebut dengan hati hati, tulisan yang rapi dan klasik.
Untukmu,
Biarkan saja aku mencintaimu. Aku tidak meminta apapun lagi darimu. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku juga, sebab aku tahu, itu hal yang sangat berbeda. Ku mohon, jangan pula kau merasa kasihan padaku, apalagi hingga kau sedih seperti waktu kemarin. Jangan kasihan padaku, sebab mencintai orang sepertimu bukan suatu hukuman dan aku sama sekali tidak menderita. Sebaliknya, aku justru semakin bertumbuh.
Setiap kali aku mencintai seseorang, aku terus belajar. Aku menyukai caramu yang tertawa dengan bebas dan aku mengerti bahwa aku tidak akan menjadi alasan mengapa kau tertawa. Aku menyukai caramu berekspresi, melalui gambar atau melalui lagu-lagumu yang terus ku putar di spotify meskipun aku tahu, aku bukan yang kau pikirkan saat kau menuangkan semuanya. Aku mencintai setiap sentimeter sanubarimu dan menyadari bahwa aku tidak pernah menjadi bagian dari hal itu. "Aku mencintaimu" dan aku belajar untuk menyadari kalau kau tidak pernah mengatakan hal itu untukku.
Karena kau sendiri yang mengajariku, ketikaku mencintai seseorang aku harus bersungguh-sungguh tanpa mengharapkan kembali. Cinta satu arah, semua tentang memberi. Itu katamu dan kukira itu benar. Ketika aku mencintai seseorang, hati akan selalu memberi tanpa pamrih, dan sepongah apapun idealismeku, aku akan menyerah tanpa perlawanan. Sehingga, satu pintaku untukmu. Biarkan aku mencintaimu meskipun kau sebeku mawar dalam hiasan resin.
Air mataku meleleh dan aku menangis lagi tanpa suara. Ini kali kedua atau ketiga aku merasakan sepahit ini tidak bisa membalas cinta untuk orang lain. Kemudian aku membuka kotak berwarna biru. Di dalamnya ada hiasan resin yang di dalamnya terhadap awetan mawar kecil. Entah ia menemukannya dimana.
"Tuhan, biarkan aku bisa mencintai orang yang sungguh-sungguh mencintaiku." aku berdoa dan segera menghapus air mataku.
Tak lama aku menekan layar ponselku, menghubunginya.
"Hei." sapaku berusaha tidak tengah tersedu.
"Hei. Ada apa?" suaranya sangat ramah saat menjawab telepon dariku.
"Aku sudah menerima kiriman darimu. Terimakasih kau sudah mau repot-repot." kataku berusaha menyusun kata-kata.
"Lalu?" tanyanya.
"Berikan aku waktu untuk membereskan diriku sendiri. Mungkin kita bisa bertemu tiga bulan lagi di tanggal yang sama dengan hari ini?" tanyaku.
"Apapun bisa terjadi dalam tiga bulan kan, Laras?" tanyanya dengan lembut.
"Apapun bisa terjadi. Kau bisa menjinakkan perasaanmu atau mungkin aku yang jatuh cinta padamu." jawabku tenang.
"Tapi bagaimana kalau keadaannya berbalik? Kau nanti patah hati lagi." Ia terdengar sangat khawatir.
"Tak apa. Kalau keadaannya berbalik, aku belajar dan bertumbuh juga karenamu." kataku.
"Ini alasan mengapa aku selalu menyukaimu." katanya.
"Apa kau tengah sibuk?" tanyaku, aku khawatir sedang mengganggunya.
"Ya, sebenarnya aku sedang di tengah-tengah sesuatu. Tapi, baiklah, bulan April ya?" ia memastikan.
"Tentu. Satu hari di bulan April. Sudah dulu ya, sampai jumpa!" pamitku.
"Iya, sampai jumpa." katanya. Kemudian sambungan teleponku putuskan.
Aku akan merapikan semua kekacauan yang ku buat.
Ingatkan aku, satu hari di bulan April, aku akan menulis lagi tentang ini.
Aku sudah memaksakannya, mencari segala macam hal-hal yang bisa kusukai darinya. Aku melihat hal-hal fundamental dari dirinya untuk ku sukai.
Pria ini secara fisik sangat menarik, cukup tinggi untuk mengimbangiku menggunakan sepatu bertumit tinggi, senyumnya sangat manis, kulitnya sedikit terbakar karena suka berolahraga, tubuhnya cukup atletis. Ia sangat ramah, berwawasan luas dan sangat sopan. Stabil dari segi finansial, pekerjaan yang baik, sudah mengantongi beberapa gelar pendidikan, menjadikan ia seseorang yang seharusnya ku sukai semudah membalikkan telapak tangan.
"Seandainya aku bisa, sedikit saja membalas perasaanmu," kataku pelan. Sangat pelan karena aku takut sekali melukainya. Pria ini seharusnya mendapatkan seorang gadis yang satu juta kali lebih daripadaku, ia sangat berhak mendapatkannya.
Ia hanya tersenyum kecil dengan tatapan nanar. Kulihat ia menyerah.
"Aku tidak bisa memaksa kan?" tanyanya yang hanya memberikan pernyataan.
"Aku sudah berusaha dan aku belum berhasil. Aku tidak mau menyakitimu meskipun aku sudah melakukannya tanpa sengaja," jawabku hampir menangis.
"Ayo, ku antar kau pulang. Biarkan aku mengerti perasaanmu. Kau sudah merelakan orang yang sangat penting buatmu, biar aku menahan sedikit keinginanku untuk bersamamu." katanya dengan lembut. Kemudian ia merangkul bahuku.
Dua hari kemudian, Pak Pos datang ke kediamanku menyampaikan sepucuk surat dan sekotak kecil hadiah berwarna biru yang ditujukan untukku. Seusai aku mengucapkan terimakasih, aku berlari ke kamarku.
Aku membuka surat tersebut dengan hati hati, tulisan yang rapi dan klasik.
Untukmu,
Biarkan saja aku mencintaimu. Aku tidak meminta apapun lagi darimu. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku juga, sebab aku tahu, itu hal yang sangat berbeda. Ku mohon, jangan pula kau merasa kasihan padaku, apalagi hingga kau sedih seperti waktu kemarin. Jangan kasihan padaku, sebab mencintai orang sepertimu bukan suatu hukuman dan aku sama sekali tidak menderita. Sebaliknya, aku justru semakin bertumbuh.
Setiap kali aku mencintai seseorang, aku terus belajar. Aku menyukai caramu yang tertawa dengan bebas dan aku mengerti bahwa aku tidak akan menjadi alasan mengapa kau tertawa. Aku menyukai caramu berekspresi, melalui gambar atau melalui lagu-lagumu yang terus ku putar di spotify meskipun aku tahu, aku bukan yang kau pikirkan saat kau menuangkan semuanya. Aku mencintai setiap sentimeter sanubarimu dan menyadari bahwa aku tidak pernah menjadi bagian dari hal itu. "Aku mencintaimu" dan aku belajar untuk menyadari kalau kau tidak pernah mengatakan hal itu untukku.
Karena kau sendiri yang mengajariku, ketikaku mencintai seseorang aku harus bersungguh-sungguh tanpa mengharapkan kembali. Cinta satu arah, semua tentang memberi. Itu katamu dan kukira itu benar. Ketika aku mencintai seseorang, hati akan selalu memberi tanpa pamrih, dan sepongah apapun idealismeku, aku akan menyerah tanpa perlawanan. Sehingga, satu pintaku untukmu. Biarkan aku mencintaimu meskipun kau sebeku mawar dalam hiasan resin.
Air mataku meleleh dan aku menangis lagi tanpa suara. Ini kali kedua atau ketiga aku merasakan sepahit ini tidak bisa membalas cinta untuk orang lain. Kemudian aku membuka kotak berwarna biru. Di dalamnya ada hiasan resin yang di dalamnya terhadap awetan mawar kecil. Entah ia menemukannya dimana.
"Tuhan, biarkan aku bisa mencintai orang yang sungguh-sungguh mencintaiku." aku berdoa dan segera menghapus air mataku.
Tak lama aku menekan layar ponselku, menghubunginya.
"Hei." sapaku berusaha tidak tengah tersedu.
"Hei. Ada apa?" suaranya sangat ramah saat menjawab telepon dariku.
"Aku sudah menerima kiriman darimu. Terimakasih kau sudah mau repot-repot." kataku berusaha menyusun kata-kata.
"Lalu?" tanyanya.
"Berikan aku waktu untuk membereskan diriku sendiri. Mungkin kita bisa bertemu tiga bulan lagi di tanggal yang sama dengan hari ini?" tanyaku.
"Apapun bisa terjadi dalam tiga bulan kan, Laras?" tanyanya dengan lembut.
"Apapun bisa terjadi. Kau bisa menjinakkan perasaanmu atau mungkin aku yang jatuh cinta padamu." jawabku tenang.
"Tapi bagaimana kalau keadaannya berbalik? Kau nanti patah hati lagi." Ia terdengar sangat khawatir.
"Tak apa. Kalau keadaannya berbalik, aku belajar dan bertumbuh juga karenamu." kataku.
"Ini alasan mengapa aku selalu menyukaimu." katanya.
"Apa kau tengah sibuk?" tanyaku, aku khawatir sedang mengganggunya.
"Ya, sebenarnya aku sedang di tengah-tengah sesuatu. Tapi, baiklah, bulan April ya?" ia memastikan.
"Tentu. Satu hari di bulan April. Sudah dulu ya, sampai jumpa!" pamitku.
"Iya, sampai jumpa." katanya. Kemudian sambungan teleponku putuskan.
Aku akan merapikan semua kekacauan yang ku buat.
Ingatkan aku, satu hari di bulan April, aku akan menulis lagi tentang ini.
21.12.16
Fatal
Mungkin kau benar, aku ini hanya ingin memerangimu, bukan mencintaimu.
Kau paling komprehensif dalam memahami keadaan kita, tetapi hanya aku yang merasakan.
"Lihat dirimu, hancur, merana." katamu, itu benar.
Tidak ku temukan kesalahan sama sekali dalam pendapatmu, tidak juga ku temukan kesalahan keputusanmu untuk pergi menjauh dariku.
Hanya aku yang kerasukan jiwa yang kosong, tapi peluru merasuk hingga ke sumsum tulang belakangku.
Ini semua salahku yang terlanjur fatal, tak henti aku terus menerus memerangimu.
20.12.16
Untuk Hati Yang Belum Menyerah
Hati,
harus sampai kapan diam di situ tidak menyerah?
Enggan terlelap tapi terlalu lelah untuk tidak terpejam
Tidak pernah mau mengerti bagaimana bulir bulir darah dan air mata tertumpah
Aku mulai menulis kolom obituarimu, hati
Tapi kau belum mati dan enggan berlabuh
Di tengah lautan luas dan hampir tenggelam
Tapi rupanya belum padam juga
Aku ingin memilikimu, sekali lagi
harus sampai kapan diam di situ tidak menyerah?
Enggan terlelap tapi terlalu lelah untuk tidak terpejam
Tidak pernah mau mengerti bagaimana bulir bulir darah dan air mata tertumpah
Aku mulai menulis kolom obituarimu, hati
Tapi kau belum mati dan enggan berlabuh
Di tengah lautan luas dan hampir tenggelam
Tapi rupanya belum padam juga
Aku ingin memilikimu, sekali lagi
13.12.16
Tentang Keinginan Menjadi Seorang Ibu
Ini ideku sendiri yang sangat relatif terwujud tapi juga sangat konservatif. Mungkin dalam satu dekade mendatang, mungkin dalam 15 tahun, atau mungkin memang tidak akan pernah terjadi. Tidak apa-apa, sebab mimpi tidak harus selalu terwujud, yang paling penting aku berusaha untuk mewujudkannya.
Aku ingin menjadi seorang ibu kalau aku sudah siap nanti. Aku ingin sebuah keluarga kecil yang dapat menjadi alasan untukku pulang ke rumah. Tapi hal yang paling sederhana, aku ingin menjadi seorang ibu.
Tidak peduli dengan populasi dunia yang sudah penuh sesak, aku ingin sekali saja seumur hidupku mempunyai kebanggaan dan menikmati keistimewaan menjadi seorang wanita, yaitu mengandung. Aku hanya ingin sekali saja, tidak ingin lebih. Tidak apa merasakan rasanya perih, karena toh itu tidak membunuhku atau menyakiti orang lain.
Kelak kalau ku memiliki seorang anak, aku akan belajar tentang memberikan sesuatu dengan sangat tulus, tanpa persyaratan, tanpa meminta ia mengembalikannya. Aku juga akan mengimplementasikan apa itu maaf yang paling mendasar, atau sekedar apa itu memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diriku sendiri. Aku akan mencintainya dengan seluruh tenagaku tetapi tidak apa-apa kalau dia hanya mencintaiku kurang dari sepuluh persennya, karena itulah cara kerja cinta.
Kelak kalau aku memiliki seorang anak, aku tidak akan pernah memanjakannya. Aku hanya akan mengajarinya, memberikan dia bekal atau pandangan yang luas, memberikannya pilihan beserta konsekuensinya. Aku tidak akan memaksanya mengambil suatu pilihan hanya untuk kebanggaanku sendiri. Oleh sebab itu, sedari dulu aku suka sekali belajar, aku ingin pengetahuanku luas, aku ingin melihat dan mengerti dunia dari berbagai sisi sehingga aku dapat berdiskusi dengan anakku mengenai berbagai pilihannya.
Anakku kelak tidak perlu menjadi dokter kenamaan, seniman hebat, astronot, atau musisi terkenal. Ia bebas menjadi apa saja, sejauh ia memberikan lebih banyak kontribusi dalam upaya penyelamatan dunia. Tidak, anakku tidak akan menjadi manusia super, ia hanya akan ku ajari caranya mencintai lingkungan dan hewan, tidak melukai perasaan orang lain, penuh maaf dan kasih, dan aku akan lebih berbangga lagi kalau ia bisa membantu orang lain. Tidak apa ia hanya menjadi karyawan biasa dengan penghasilan minim, sejauh ia menikmati apa yang ia kerjakan. Dalam hematku, ini adalah pekerjaan yang berat bagi bakal manusia ini.
Aku tidak tahu kapan mimpi ini akan terwujud, yang aku tahu hal ini masih sangat lama. Akupun perlu berbekal lebih banyak ilmu dan pengalaman untuk membentuk manusia seperti itu. Usiaku sekarang 23. Temanku ada yang pernah berkata, bahwa dalam waktu 10 tahun apapun bisa terjadi. Bahkan dalam kurang dari sepuluh tahun mungkin aku sudah tidak ada lagi di bumi ini.
Tidak tahu.
Aku ingin menjadi seorang ibu kalau aku sudah siap nanti. Aku ingin sebuah keluarga kecil yang dapat menjadi alasan untukku pulang ke rumah. Tapi hal yang paling sederhana, aku ingin menjadi seorang ibu.
Tidak peduli dengan populasi dunia yang sudah penuh sesak, aku ingin sekali saja seumur hidupku mempunyai kebanggaan dan menikmati keistimewaan menjadi seorang wanita, yaitu mengandung. Aku hanya ingin sekali saja, tidak ingin lebih. Tidak apa merasakan rasanya perih, karena toh itu tidak membunuhku atau menyakiti orang lain.
Kelak kalau ku memiliki seorang anak, aku akan belajar tentang memberikan sesuatu dengan sangat tulus, tanpa persyaratan, tanpa meminta ia mengembalikannya. Aku juga akan mengimplementasikan apa itu maaf yang paling mendasar, atau sekedar apa itu memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diriku sendiri. Aku akan mencintainya dengan seluruh tenagaku tetapi tidak apa-apa kalau dia hanya mencintaiku kurang dari sepuluh persennya, karena itulah cara kerja cinta.
Kelak kalau aku memiliki seorang anak, aku tidak akan pernah memanjakannya. Aku hanya akan mengajarinya, memberikan dia bekal atau pandangan yang luas, memberikannya pilihan beserta konsekuensinya. Aku tidak akan memaksanya mengambil suatu pilihan hanya untuk kebanggaanku sendiri. Oleh sebab itu, sedari dulu aku suka sekali belajar, aku ingin pengetahuanku luas, aku ingin melihat dan mengerti dunia dari berbagai sisi sehingga aku dapat berdiskusi dengan anakku mengenai berbagai pilihannya.
Anakku kelak tidak perlu menjadi dokter kenamaan, seniman hebat, astronot, atau musisi terkenal. Ia bebas menjadi apa saja, sejauh ia memberikan lebih banyak kontribusi dalam upaya penyelamatan dunia. Tidak, anakku tidak akan menjadi manusia super, ia hanya akan ku ajari caranya mencintai lingkungan dan hewan, tidak melukai perasaan orang lain, penuh maaf dan kasih, dan aku akan lebih berbangga lagi kalau ia bisa membantu orang lain. Tidak apa ia hanya menjadi karyawan biasa dengan penghasilan minim, sejauh ia menikmati apa yang ia kerjakan. Dalam hematku, ini adalah pekerjaan yang berat bagi bakal manusia ini.
Aku tidak tahu kapan mimpi ini akan terwujud, yang aku tahu hal ini masih sangat lama. Akupun perlu berbekal lebih banyak ilmu dan pengalaman untuk membentuk manusia seperti itu. Usiaku sekarang 23. Temanku ada yang pernah berkata, bahwa dalam waktu 10 tahun apapun bisa terjadi. Bahkan dalam kurang dari sepuluh tahun mungkin aku sudah tidak ada lagi di bumi ini.
Tidak tahu.
9.12.16
Mantra Ajaib
Kukira aku telah menguasai satu mantra paling efektif dan manjur. Mantra ini berguna untuk mengusir orang-orang yang ku harap akan segera pergi dari kehidupanku. Mantra ini sangat ampuh bagi orang yang paling dekat denganku.
Awalnya, aku mengira mantra ini akan bekerja sesuai dengan bahasa yang ku mengerti kemudian aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Banyak orang sangat penasaran dengan mantra rahasiaku. Sayangnya, mantra rahasiaku ini baru bisa mujarab setelah banyak pengalaman yang kulalui.
Temanku bertanya dengan penasaran, "Apakah mantra ajaib itu?" sebab ia sangat ingin mengusir hal-hal yang tidak baik yang terjadi padanya.
Aku hanya tersenyum, "Kau tidak bisa sembarangan melafalkan mantra ini. Kadang ini bekerja baik padaku tapi kadang justru sebaliknya. Hati-hati dengan mantra ini, sifatnya seperti dua mata pisau." Aku memperingatkan.
"Kalau begitu, aku tidak jadi ingin tahu karena sepertinya mantra ini sangat menyeramkan," ucapnya dengan ragu.
"Pengalamanku sih begitu." sahutku pelan.
Temanku kemudian berlalu, sementara aku bergeming dengan tatapan nanar dan kosong. Aku mencari celah yang ternyata masih belum ada di dalam diriku. Aku sangat padat dan sesak hingga aku sulit sekali bernapas. Ku hampir mengucapkan mantra itu lagi, mantra yang paling jujur dan ternyata membuatku menderita sampai hari ini.
Tanganku terkepal, tidak ada sesuatu yang lebih berarti daripada hal ini. Tanpa sadar aku mengucapkan mantra itu sekali lagi. Ku tahu pelafalan mantra itu akan membuat aku bertambah sesak dan orang yang kurindukan ini semakin menjauh.
Aku mengucapkannya. Ini terjadi sungguhan, dan kini ku lihat punggung orang itu dalam mimpiku. Air mataku berlinang lagi. Belum ada celah sejak orang itu berlayar, meskipun ia kini semakin asing dan asing.
"Aku merindukanmu, belum sedikitpun rasa ini berkurang. Aku belum kurang mencintaimu," aku merapalkan mantra itu sekali lagi dan kemudian aku melihat tubuhku menjadi kapas kapas dan naik ke angkasa.
Sementara orang itu kini semakin tidak terlihat di antara lautan yang lepas dan dalam.
Pergilah.
Awalnya, aku mengira mantra ini akan bekerja sesuai dengan bahasa yang ku mengerti kemudian aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Banyak orang sangat penasaran dengan mantra rahasiaku. Sayangnya, mantra rahasiaku ini baru bisa mujarab setelah banyak pengalaman yang kulalui.
Temanku bertanya dengan penasaran, "Apakah mantra ajaib itu?" sebab ia sangat ingin mengusir hal-hal yang tidak baik yang terjadi padanya.
Aku hanya tersenyum, "Kau tidak bisa sembarangan melafalkan mantra ini. Kadang ini bekerja baik padaku tapi kadang justru sebaliknya. Hati-hati dengan mantra ini, sifatnya seperti dua mata pisau." Aku memperingatkan.
"Kalau begitu, aku tidak jadi ingin tahu karena sepertinya mantra ini sangat menyeramkan," ucapnya dengan ragu.
"Pengalamanku sih begitu." sahutku pelan.
Temanku kemudian berlalu, sementara aku bergeming dengan tatapan nanar dan kosong. Aku mencari celah yang ternyata masih belum ada di dalam diriku. Aku sangat padat dan sesak hingga aku sulit sekali bernapas. Ku hampir mengucapkan mantra itu lagi, mantra yang paling jujur dan ternyata membuatku menderita sampai hari ini.
Tanganku terkepal, tidak ada sesuatu yang lebih berarti daripada hal ini. Tanpa sadar aku mengucapkan mantra itu sekali lagi. Ku tahu pelafalan mantra itu akan membuat aku bertambah sesak dan orang yang kurindukan ini semakin menjauh.
Aku mengucapkannya. Ini terjadi sungguhan, dan kini ku lihat punggung orang itu dalam mimpiku. Air mataku berlinang lagi. Belum ada celah sejak orang itu berlayar, meskipun ia kini semakin asing dan asing.
"Aku merindukanmu, belum sedikitpun rasa ini berkurang. Aku belum kurang mencintaimu," aku merapalkan mantra itu sekali lagi dan kemudian aku melihat tubuhku menjadi kapas kapas dan naik ke angkasa.
Sementara orang itu kini semakin tidak terlihat di antara lautan yang lepas dan dalam.
Pergilah.
2.12.16
Tentang Sayap-Sayap Yang Takut Pada Angin
Dalam mitologi Yunani kuno dikenal seorang pembawa pesan antara Dewa dan Dewi dengan manusia bernama Iris. Ia selalu dilambangkan dengan pelangi, seiring dengan bertemunya matahari dengan bumi selepas langit dirundung kesedihan. Iris selalu berusaha menyampaikan banyak kabar baik kepada makhluk bumi. Iris dalam deskripsi orang awam berwajah sangat datar, memiliki sayap untuk mengakomodasinya dari satu tempat ke tempat lain dan dari tangannya sering keluar spektrum warna yang cantik guna menyampaikan berbagai kabar.
Suatu hari di pertengahan musim dingin, Iris, sang pembawa pesan menjatuhkan sayapnya ke atas bumi. Tidak apa-apa ia memang sengaja ingin membuang sayapnya ke atas bumi, toh, suatu hari nanti kalau Iris mau, ia bisa menumbuhkan sayapnya kembali. Kebetulan sepanjang tahun ini pekerjaan Iris sangat melelahkan, ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu sesingkat mungkin dan hal itu membuat sayapnya jadi cepat usang.
"... tapi Iris, aku masih sanggup menemanimu berpergian," pinta sayap kiri Iris. Iris hanya tersenyum dengan bijaksana.
"Kau mungkin masih sanggup, sayap kiriku yang gigih, tapi sayapku harus bekerja seimbang kiri dan kanan," kata Iris.
"Maksudmu, kau bilang aku tidak bekerja dengan baik?" tanya sayap kanan dengan datar, sedikit banyak ia merasa tersinggung.
"Kalian berdua telah bekerja dengan baik, rajin, patuh dan hebat, sayap-sayapku. Aku berterimakasih kepada kalian. Tapi aku harus beristirahat setelah sepanjang tahun ini lelah menyampaikan berbagai macam pesan." kata Iris dengan sabar.
"Apa yang akan terjadi pada kami kalau kami tak lagi bersamamu, Iris?" tanya sayap kiri Iris dengan khawatir.
"Kalian akan baik-baik saja. Kalian akan terjun ke bumi dan kalian akan menjadi sesuatu yang sama sekali baru," jawab Iris.
"Tapi kami sesungguhnya takut, Iris." sayap kanan mengakuinya. Ia bergumam nyaris tidak terdengar.
"Apa yang kalian takuti?"
"Angin," jawab mereka hampir serentak.
Iris terbelalak. Bagaimana mungkin mereka berdua justru takut dengan teman baiknya selama ini. "Bagaimana mungkin kalian takut pada angin yang sangat hebat itu?" tanya Iris.
"Menurutku ia kasar, kalau tidak ada kau, ia pasti membawa kami kemanapun yang ia suka. Berapa kali kami harus berusaha sekuat tenaga melawan angin. Mereka sangat menusuk dan menyakitkan kami." sayap kanan dengan jujur mengatakannya.
"Sekarang apa lagi yang membuat kami usang kalau bukan karena tekanan udara yang kejam dan angin yang tidak mengenal ampun." tambah sayap kiri khawatir.
Iris tersenyum. "Ku kira inilah saatnya kalian mengenal Tuan Angin dengan lebih baik." Sahut Iris. Satu persatu ia melepaskan sayapnya. Di mulai dari sayap kanan yang jauh lebih tenang dari segi emosi dan kemudian sayap kiri yang lebih meledak-ledak.
"Kalian sangat baik dan hebat, kelak kehidupan di bumi akan memberikan kalian hal yang baik juga. Berjanjilah padaku kalau kalian akan menjadi sayap-sayap yang hebat dalam wujud apapun itu," bisik Iris pada kedua sayapnya yang tampak tak rela melepaskan Iris.
"Kami akan merindukanmu, Iris. Selamat tinggal!" salam kedua sayap itu.
"Selamat tinggal," jawab Iris yang kemudian melepas kedua sayap itu sehingga mereka terjatuh bebas ke atas bumi.
Kedua sayap itu jatuh tanpa terkendali memasuki bumi. Sayap-sayap itu kemudian bertemu kembali dengan angin yang kasar dan angkuh. Mereka berdua terhantam dan terpukul tanpa bisa melawan karena angin sangat kasat mata. Hingga angin berbisik kepada mereka, menyambut kedatangan mereka ke bumi.
"Halo, Yang terbuang! Pemilik kalian sudah membenci kalian ya?" tanya angin dengan kasar yang menghembus mereka berdua.
"Tidak, Iris tidak membenci kami. Kami memberi Iris kesempatan untuk beristirahat," kata sayap kiri dengan berani.
"Sungguh?! Lalu kenapa kalian tampak muram? Apa kalian takut padaku?" tanya angin.
Kedua sayap itu tampak gamang, sedikit banyak mereka ingin mengakuinya, tapi mereka harus tampak gigih dan berani seperti saat bersama Iris.
"Tidak. Kami tidak takut padamu bahkan kami tidak takut apapun dan kami berdua adalah sepasang sayap yang hebat." jawab sayap kanan. Mencoba menghapus setiap ketakutan yang mereka berdua sebenarnya miliki.
"Ah ya, mari kita lihat apa kalian masih cukup berani bila kalian berdua terpisah." ide angin yang kemudian meniup mereka ke dua hemisfer yang berbeda.
Tanpa sempat mengucapkan kata perpisahaan, kedua sayap tersebut ke dua tempat yang berlawanan sehingga sangat tidak mungkin untuk mempertemukan mereka berdua. Kedua sayap itu menjadi sangat lemah dan semakin lemah hingga mereka tak berdaya tersungkur kepermukaan bumi yang amat permai.
Saat menyentuh permukaan bumi, sayap-sayap itu berubah menjadi bentuk yang lain. Sayap kanan lebih beruntung, saat ia menyentuh permukaan bumi, ia berubah menjadi seekor elang alap yang mampu terbang tinggi dengan gagahnya. Sayap kanan membutuhkan angin hampir sepanjang waktunya. Saat itu, sayap kanan juga menyadari bahwa angin sangat baik hati, hanya saja memang angin sangat usil dan sedikit sombong, tapi tak apa karena itu yang membuat angin sangat menarik dan menjadi sahabat karibnya.
Akan tetapi nasib tidak terlalu baik kepada sayap kiri yang menjadi manusia saat ia menyentuh permukaan bumi. Ia termenung di jendelanya, mengamati angin yang bertiup di antara dedaunan dan membawa daun-daun tersebut pergi entah kemana. Cuaca memang sedang tidak baik di luar dan memaksa sayap kiri tetap tinggal di ruangannya yang hangat dengan secangkir kopi dan kesendirian. Ia masih muram, membenci angin, dan tersenyum sekedarnya kepada siapapun.
Kadang ia masih suka bermimpi tentang sayap kanan, tentang Iris dan pelangi-pelanginya, atau apapun dalam kesendiriannya. Kadang ia berpikir, seandainya saja Iris tahu apa yang sayap-sayapnya alami, pasti Iris menyesal melepaskan mereka berdua.
Sayap kiri tak pernah menyukai ide tentang kategorisasi, pemecah-belahan ataupun pengasingan, mungkin karena ia adalah produk kesengsaraan dari sebuah perpisahan. Ia menyukai segala ide tentang kesatuan, ketidakpecahbelahan, dan kesamaan.
Fakta pahitnya, tidak ada satupun manusia yang benar-benar rigid menjadi satu atau benar-benar terpisah. Pandangan samar-samar ini membuatnya gusar. Mungkin itu juga yang menjadikannya ia hanya percaya pada kesatuan yang paling utuh, yaitu dirinya sendiri.
Sayap kiri tetap sendiri dalam setiap kemurungannya. Sayap kiri tidak tahu bahwa selama ini angin berbisik padanya bahwa angin sangat ingin bersahabat dengannya. Kadang memang angin tidak pernah tahu bagaimana cara menyampaikan niat baiknya pada sayap kiri sebab ia lebih dingin daripada daerah sebelah timur Antartika. Sayap kiri menghindari angin, membencinya.
Kadang angin berusaha meniup sejuk di wajah sayap kiri yang kemudian hanya dibalasnya dengan tundukan kepala. Kadang angin bersama lebah-lebah dan burung-burung isap madu dan kolibri menunjukan padanya bunga-bunga aneka warna yang bersemi tapi sayap kiri tidak pernah menyadarinya. Kadang angin usil membawa kabur topi atau kertas-kertas yang ia pegang, namun yang didapatkan angin hanya caci maki kebencian dari sayap kiri.
Sayap kiri tidak pernah tahu angin hanya ingin meminta maaf dan ingin memulai persahabatan dengannya.
Sayap kiri tidak pernah tahu, atau barang kali, belum tahu.
Jakarta, Desember 2016
Suatu hari di pertengahan musim dingin, Iris, sang pembawa pesan menjatuhkan sayapnya ke atas bumi. Tidak apa-apa ia memang sengaja ingin membuang sayapnya ke atas bumi, toh, suatu hari nanti kalau Iris mau, ia bisa menumbuhkan sayapnya kembali. Kebetulan sepanjang tahun ini pekerjaan Iris sangat melelahkan, ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu sesingkat mungkin dan hal itu membuat sayapnya jadi cepat usang.
"... tapi Iris, aku masih sanggup menemanimu berpergian," pinta sayap kiri Iris. Iris hanya tersenyum dengan bijaksana.
"Kau mungkin masih sanggup, sayap kiriku yang gigih, tapi sayapku harus bekerja seimbang kiri dan kanan," kata Iris.
"Maksudmu, kau bilang aku tidak bekerja dengan baik?" tanya sayap kanan dengan datar, sedikit banyak ia merasa tersinggung.
"Kalian berdua telah bekerja dengan baik, rajin, patuh dan hebat, sayap-sayapku. Aku berterimakasih kepada kalian. Tapi aku harus beristirahat setelah sepanjang tahun ini lelah menyampaikan berbagai macam pesan." kata Iris dengan sabar.
"Apa yang akan terjadi pada kami kalau kami tak lagi bersamamu, Iris?" tanya sayap kiri Iris dengan khawatir.
"Kalian akan baik-baik saja. Kalian akan terjun ke bumi dan kalian akan menjadi sesuatu yang sama sekali baru," jawab Iris.
"Tapi kami sesungguhnya takut, Iris." sayap kanan mengakuinya. Ia bergumam nyaris tidak terdengar.
"Apa yang kalian takuti?"
"Angin," jawab mereka hampir serentak.
Iris terbelalak. Bagaimana mungkin mereka berdua justru takut dengan teman baiknya selama ini. "Bagaimana mungkin kalian takut pada angin yang sangat hebat itu?" tanya Iris.
"Menurutku ia kasar, kalau tidak ada kau, ia pasti membawa kami kemanapun yang ia suka. Berapa kali kami harus berusaha sekuat tenaga melawan angin. Mereka sangat menusuk dan menyakitkan kami." sayap kanan dengan jujur mengatakannya.
"Sekarang apa lagi yang membuat kami usang kalau bukan karena tekanan udara yang kejam dan angin yang tidak mengenal ampun." tambah sayap kiri khawatir.
Iris tersenyum. "Ku kira inilah saatnya kalian mengenal Tuan Angin dengan lebih baik." Sahut Iris. Satu persatu ia melepaskan sayapnya. Di mulai dari sayap kanan yang jauh lebih tenang dari segi emosi dan kemudian sayap kiri yang lebih meledak-ledak.
"Kalian sangat baik dan hebat, kelak kehidupan di bumi akan memberikan kalian hal yang baik juga. Berjanjilah padaku kalau kalian akan menjadi sayap-sayap yang hebat dalam wujud apapun itu," bisik Iris pada kedua sayapnya yang tampak tak rela melepaskan Iris.
"Kami akan merindukanmu, Iris. Selamat tinggal!" salam kedua sayap itu.
"Selamat tinggal," jawab Iris yang kemudian melepas kedua sayap itu sehingga mereka terjatuh bebas ke atas bumi.
Kedua sayap itu jatuh tanpa terkendali memasuki bumi. Sayap-sayap itu kemudian bertemu kembali dengan angin yang kasar dan angkuh. Mereka berdua terhantam dan terpukul tanpa bisa melawan karena angin sangat kasat mata. Hingga angin berbisik kepada mereka, menyambut kedatangan mereka ke bumi.
"Halo, Yang terbuang! Pemilik kalian sudah membenci kalian ya?" tanya angin dengan kasar yang menghembus mereka berdua.
"Tidak, Iris tidak membenci kami. Kami memberi Iris kesempatan untuk beristirahat," kata sayap kiri dengan berani.
"Sungguh?! Lalu kenapa kalian tampak muram? Apa kalian takut padaku?" tanya angin.
Kedua sayap itu tampak gamang, sedikit banyak mereka ingin mengakuinya, tapi mereka harus tampak gigih dan berani seperti saat bersama Iris.
"Tidak. Kami tidak takut padamu bahkan kami tidak takut apapun dan kami berdua adalah sepasang sayap yang hebat." jawab sayap kanan. Mencoba menghapus setiap ketakutan yang mereka berdua sebenarnya miliki.
"Ah ya, mari kita lihat apa kalian masih cukup berani bila kalian berdua terpisah." ide angin yang kemudian meniup mereka ke dua hemisfer yang berbeda.
Tanpa sempat mengucapkan kata perpisahaan, kedua sayap tersebut ke dua tempat yang berlawanan sehingga sangat tidak mungkin untuk mempertemukan mereka berdua. Kedua sayap itu menjadi sangat lemah dan semakin lemah hingga mereka tak berdaya tersungkur kepermukaan bumi yang amat permai.
Saat menyentuh permukaan bumi, sayap-sayap itu berubah menjadi bentuk yang lain. Sayap kanan lebih beruntung, saat ia menyentuh permukaan bumi, ia berubah menjadi seekor elang alap yang mampu terbang tinggi dengan gagahnya. Sayap kanan membutuhkan angin hampir sepanjang waktunya. Saat itu, sayap kanan juga menyadari bahwa angin sangat baik hati, hanya saja memang angin sangat usil dan sedikit sombong, tapi tak apa karena itu yang membuat angin sangat menarik dan menjadi sahabat karibnya.
Akan tetapi nasib tidak terlalu baik kepada sayap kiri yang menjadi manusia saat ia menyentuh permukaan bumi. Ia termenung di jendelanya, mengamati angin yang bertiup di antara dedaunan dan membawa daun-daun tersebut pergi entah kemana. Cuaca memang sedang tidak baik di luar dan memaksa sayap kiri tetap tinggal di ruangannya yang hangat dengan secangkir kopi dan kesendirian. Ia masih muram, membenci angin, dan tersenyum sekedarnya kepada siapapun.
Kadang ia masih suka bermimpi tentang sayap kanan, tentang Iris dan pelangi-pelanginya, atau apapun dalam kesendiriannya. Kadang ia berpikir, seandainya saja Iris tahu apa yang sayap-sayapnya alami, pasti Iris menyesal melepaskan mereka berdua.
Sayap kiri tak pernah menyukai ide tentang kategorisasi, pemecah-belahan ataupun pengasingan, mungkin karena ia adalah produk kesengsaraan dari sebuah perpisahan. Ia menyukai segala ide tentang kesatuan, ketidakpecahbelahan, dan kesamaan.
Fakta pahitnya, tidak ada satupun manusia yang benar-benar rigid menjadi satu atau benar-benar terpisah. Pandangan samar-samar ini membuatnya gusar. Mungkin itu juga yang menjadikannya ia hanya percaya pada kesatuan yang paling utuh, yaitu dirinya sendiri.
Sayap kiri tetap sendiri dalam setiap kemurungannya. Sayap kiri tidak tahu bahwa selama ini angin berbisik padanya bahwa angin sangat ingin bersahabat dengannya. Kadang memang angin tidak pernah tahu bagaimana cara menyampaikan niat baiknya pada sayap kiri sebab ia lebih dingin daripada daerah sebelah timur Antartika. Sayap kiri menghindari angin, membencinya.
Kadang angin berusaha meniup sejuk di wajah sayap kiri yang kemudian hanya dibalasnya dengan tundukan kepala. Kadang angin bersama lebah-lebah dan burung-burung isap madu dan kolibri menunjukan padanya bunga-bunga aneka warna yang bersemi tapi sayap kiri tidak pernah menyadarinya. Kadang angin usil membawa kabur topi atau kertas-kertas yang ia pegang, namun yang didapatkan angin hanya caci maki kebencian dari sayap kiri.
Sayap kiri tidak pernah tahu angin hanya ingin meminta maaf dan ingin memulai persahabatan dengannya.
Sayap kiri tidak pernah tahu, atau barang kali, belum tahu.
Jakarta, Desember 2016
28.11.16
Hantu - Bagian 3
"Jangan memaksakan kehendakmu. Semuanya akan menjauh, sepertiku. Jangan memaksa." Kau mengatakannya memintaku untuk melepaskanmu.
Aku menyerah dan memberikanmu senyuman paling baik. Air mataku sudah habis, segala hal mengenaimu semakin menjauh dari realita terkasarku, namun semakin mendekap realita terhalusku.
Tidak pernah ada yang tahu apa yang membuatku mencintaimu dan itu akar setiap permasalahannya. Mungkin ada sejuta hal yang membuatku kagum padamu dan itu membuatku semakin mencintaimu.
Tapi ada satu rasa yang tidak pernah berubah, jauh di kedalaman dan kegelapan sudut batinku.
Satu rasa yang bersifat searah, yaitu tentang memberi. Aku hanya ingin memberi semua hal yang aku punya untukmu, tapi ternyata lima ratus persenku hanya lima persen untukmu. Memberikanku terlalu sedikit waktu.
"Tapi kita sebenarnya hanya sebentar, bagaimana bisa pengalaman kita terlalu banyak buatmu?" Tanya kau yang seperti tidak punya ingatan apapun tentangku.
"Aku tidak lupa sedikitpun pengalaman kita, bagaimana bisa kau tidak mengingatnya sedikitpun?" tanyaku lirih.
"Sebaliknya, aku tidak ingat apapun mengenai kita," Kau mengatakannya seakan aku ini lebih tak terlihat daripada angin yang menyentuh wajahmu.
Aku terkatung sendirian. Lama. Air mata telah kering, tapi luka semakin membusuk di dalam.
"Aku akan menunggu untuku, sampai batas waktuku," kataku.
Sekarang satu-satunya yang bisa kulakukan hanya memberikan kebebasan dan kedamaian untukmu. Aku tidak sejengkalpun pergi atau menjauh. Aku hanya akan tetap menunggu, sampai tidak ada lagi yang bisa kusisakan bahkan dalam jejak-jejak bayanganmu sekalipun.
"Jangan menungguku, aku tidak akan pernah kembali lagi padamu," katamu.
Menunggumu adalah satu-satunya hal yang tidak aku paksakan. Aku membiarkannya begitu saja, biar rasa ini yang menjawab semuanya juga. Mungkin aku memang hantu buatmu yang terlalu dalam di ketiadaanmu.
Terlalu tidak cukup untukmu.
Aku menyerah dan memberikanmu senyuman paling baik. Air mataku sudah habis, segala hal mengenaimu semakin menjauh dari realita terkasarku, namun semakin mendekap realita terhalusku.
Tidak pernah ada yang tahu apa yang membuatku mencintaimu dan itu akar setiap permasalahannya. Mungkin ada sejuta hal yang membuatku kagum padamu dan itu membuatku semakin mencintaimu.
Tapi ada satu rasa yang tidak pernah berubah, jauh di kedalaman dan kegelapan sudut batinku.
Satu rasa yang bersifat searah, yaitu tentang memberi. Aku hanya ingin memberi semua hal yang aku punya untukmu, tapi ternyata lima ratus persenku hanya lima persen untukmu. Memberikanku terlalu sedikit waktu.
"Tapi kita sebenarnya hanya sebentar, bagaimana bisa pengalaman kita terlalu banyak buatmu?" Tanya kau yang seperti tidak punya ingatan apapun tentangku.
"Aku tidak lupa sedikitpun pengalaman kita, bagaimana bisa kau tidak mengingatnya sedikitpun?" tanyaku lirih.
"Sebaliknya, aku tidak ingat apapun mengenai kita," Kau mengatakannya seakan aku ini lebih tak terlihat daripada angin yang menyentuh wajahmu.
Aku terkatung sendirian. Lama. Air mata telah kering, tapi luka semakin membusuk di dalam.
"Aku akan menunggu untuku, sampai batas waktuku," kataku.
Sekarang satu-satunya yang bisa kulakukan hanya memberikan kebebasan dan kedamaian untukmu. Aku tidak sejengkalpun pergi atau menjauh. Aku hanya akan tetap menunggu, sampai tidak ada lagi yang bisa kusisakan bahkan dalam jejak-jejak bayanganmu sekalipun.
"Jangan menungguku, aku tidak akan pernah kembali lagi padamu," katamu.
Menunggumu adalah satu-satunya hal yang tidak aku paksakan. Aku membiarkannya begitu saja, biar rasa ini yang menjawab semuanya juga. Mungkin aku memang hantu buatmu yang terlalu dalam di ketiadaanmu.
Terlalu tidak cukup untukmu.
7.11.16
Berhenti Menyalahkan Siapapun
Untuk selalu menyisakan sesuatu yang tidak pernah ada
membiarkan semua cerita remuk redam
dan kau kini menjadi hantu paling menyeramkan dalam hidupku
sekaligus godaanku setiap kali melihatmu ada
kau seperti sesuatu yang harus ku bunuh
karena aku remuk redam tiap kali melihatmu
bukan salahmu untuk pergi
ini salahku karena membiarkan diriku jatuh dengan harapan akan kau tangkap
aku jatuh begitu saja
sehancur gelas-gelas kaca
membiarkan semua cerita remuk redam
dan kau kini menjadi hantu paling menyeramkan dalam hidupku
sekaligus godaanku setiap kali melihatmu ada
kau seperti sesuatu yang harus ku bunuh
karena aku remuk redam tiap kali melihatmu
bukan salahmu untuk pergi
ini salahku karena membiarkan diriku jatuh dengan harapan akan kau tangkap
aku jatuh begitu saja
sehancur gelas-gelas kaca
19.10.16
Dua Laras
Satu Larasati saja sudah masalah, sekarang ada dua. Bagaimana dunia ini tidak pusing saat Tuhan ternyata cukup usil menciptakan dua orang menyebalkan dan kebetulan memberi mereka nama yang sama?
Mungkin waktu itu Tuhan hanya menciptakan satu saja, tadinya, Ia memberikan Laras ke dunia pada bulan Mei tahun 1993, waktu itu masih awal bulan. Mungkin saat itu Tuhan gemas pada Laras manis yang pertama, ia kemudian ia menciptakan versi ke dua, yang belakangan diketahui lebih banyak bug dibandingkan versi awalnya, Tuhan merilis Laras yang kedua sekitar lima bulan setelahnya. Jadilah di dunia ini ada dua macam Laras.
Keduanya sama-sama cengeng,
sama-sama aneh,
sama-sama menyukai musik,
sama-sama menyukai kegiatan menggambar,
sama-sama memiliki banyak teman dan disenangi
sama-sama manis dan baik hati
sama-sama menyukai bunga
sama-sama menyukai bintang
sama-sama suka memberi hadiah
sama-sama sering berbicara dengan hewan terutama anjing
keduanya menyukai anak kecil sekaligus kekanakan
dan keduanya sama-sama pernah patah hati dengan kasus serupa
Kedua Laras ini telah saling mengenal semenjak sekolah dasar. Berlanjut kembali bersekolah di sekolah yang sama saat SMU, bahkan ketika di kelas sebelas mereka sekelas. Mereka selalu saling menyayangi dengan caranya masing-masing. Bersahabat yang tidak melulu saling berbicara, berhubungan, atau bercerita, tapi mereka sangat peduli satu sama lain.
Laras yang satu berkuliah di kota yang berbeda mengambil jurusan farmasi dan Laras yang lain tetap tinggal di kota kelahirannya mengambil konsentrasi Ilmu Ekonomi saat kuliah. Untungnya, keduanya sama-sama sukses dalam studinya. Meskipun wajah mereka tidak mirip, tapi keduanya sama-sama manis dan mudah mengambil hati siapapun, karena keduanya selalu tulus dalam melakukan sesuatu.
Kedua Laras ini pernah mengalami patah hati yang sangat mendalam. Kadang orang-orang suka bertanya dan keheranan pada orang yang tega menyakiti kedua Laras ini. Tapi itu bukan salah orang lain, bukan salah Laras-Laras ini juga. Ini memang seperti takdir yang mencoba membiasakan Laras untuk dewasa.
Kedua Laras ini selalu murah hati untuk memberikan maaf, yang kadang sering kali dimanfaatkan orang-orang di sekitar mereka akan tetapi itu bukan persoalannya.
Orang-orang di sekitar Laras beruntung pernah mencintai mereka, sama seperti mereka mencintai orang di sekitar mereka dan memberikan banyak kebahagiaan terpancar dari cara mereka tersenyum.
Laras beruntung pernah mencintai orang-orang di sekitarnya. Tetapi jangan kecewa ketika kau melewatkannya. Kecewalah kalau kau menyia-nyiakan Laras-Laras ini dan membiarkan mereka menangis untukmu.
Larasati-Larasati ini selalu memberikan kesempatan kedua. Sayang sekali, jikalau lebih dari itu kau harus menghadapi orang-orang di belakang mereka.
Mungkin waktu itu Tuhan hanya menciptakan satu saja, tadinya, Ia memberikan Laras ke dunia pada bulan Mei tahun 1993, waktu itu masih awal bulan. Mungkin saat itu Tuhan gemas pada Laras manis yang pertama, ia kemudian ia menciptakan versi ke dua, yang belakangan diketahui lebih banyak bug dibandingkan versi awalnya, Tuhan merilis Laras yang kedua sekitar lima bulan setelahnya. Jadilah di dunia ini ada dua macam Laras.
sama-sama aneh,
sama-sama menyukai musik,
sama-sama menyukai kegiatan menggambar,
sama-sama memiliki banyak teman dan disenangi
sama-sama manis dan baik hati
sama-sama menyukai bunga
sama-sama menyukai bintang
sama-sama suka memberi hadiah
sama-sama sering berbicara dengan hewan terutama anjing
keduanya menyukai anak kecil sekaligus kekanakan
dan keduanya sama-sama pernah patah hati dengan kasus serupa
Kedua Laras ini telah saling mengenal semenjak sekolah dasar. Berlanjut kembali bersekolah di sekolah yang sama saat SMU, bahkan ketika di kelas sebelas mereka sekelas. Mereka selalu saling menyayangi dengan caranya masing-masing. Bersahabat yang tidak melulu saling berbicara, berhubungan, atau bercerita, tapi mereka sangat peduli satu sama lain.
Laras yang satu berkuliah di kota yang berbeda mengambil jurusan farmasi dan Laras yang lain tetap tinggal di kota kelahirannya mengambil konsentrasi Ilmu Ekonomi saat kuliah. Untungnya, keduanya sama-sama sukses dalam studinya. Meskipun wajah mereka tidak mirip, tapi keduanya sama-sama manis dan mudah mengambil hati siapapun, karena keduanya selalu tulus dalam melakukan sesuatu.
Kedua Laras ini pernah mengalami patah hati yang sangat mendalam. Kadang orang-orang suka bertanya dan keheranan pada orang yang tega menyakiti kedua Laras ini. Tapi itu bukan salah orang lain, bukan salah Laras-Laras ini juga. Ini memang seperti takdir yang mencoba membiasakan Laras untuk dewasa.
Kedua Laras ini selalu murah hati untuk memberikan maaf, yang kadang sering kali dimanfaatkan orang-orang di sekitar mereka akan tetapi itu bukan persoalannya.
Orang-orang di sekitar Laras beruntung pernah mencintai mereka, sama seperti mereka mencintai orang di sekitar mereka dan memberikan banyak kebahagiaan terpancar dari cara mereka tersenyum.
Laras beruntung pernah mencintai orang-orang di sekitarnya. Tetapi jangan kecewa ketika kau melewatkannya. Kecewalah kalau kau menyia-nyiakan Laras-Laras ini dan membiarkan mereka menangis untukmu.
Larasati-Larasati ini selalu memberikan kesempatan kedua. Sayang sekali, jikalau lebih dari itu kau harus menghadapi orang-orang di belakang mereka.
Larasati, 2016
16.10.16
The Final
When love for me he didn't have any
I have no idea
how much pain he suffered this whole year
or how bitter was the cup of tea he had
Go on and be happy, love
I'm happy as long as you do
I have no idea
how much pain he suffered this whole year
or how bitter was the cup of tea he had
Go on and be happy, love
I'm happy as long as you do
27.8.16
Biar Hujan Yang Memberitakan Semuanya
Biar hujan yang memberitakan semuanya
Bahwa setiap keheningan yang muncul bukan berarti ketiadaan
Memberikanmu waktu untuk mengadah sejenak
Seperti hujan menghujam bumi dalam hening tapi menjadi hiruk pikuk beraturan
Membiarkanmu terkunci dalam setiap keheningan
Mendewasakanmu
Bahwa setiap keheningan yang muncul bukan berarti ketiadaan
Memberikanmu waktu untuk mengadah sejenak
Seperti hujan menghujam bumi dalam hening tapi menjadi hiruk pikuk beraturan
Membiarkanmu terkunci dalam setiap keheningan
Mendewasakanmu
Berdarah
Berdarah menjadi terminologi yang mengerikan untuk kami
Faktanya, kami terluka hampir setiap waktu
Ketika berdampingan kami persis seperti dua pedang
Tajam, berbahaya, saling melukai
Kami berdua menjadi monster mengerikan
Dan kami berdarah setiap hari
Faktanya, kami terluka hampir setiap waktu
Ketika berdampingan kami persis seperti dua pedang
Tajam, berbahaya, saling melukai
Kami berdua menjadi monster mengerikan
Dan kami berdarah setiap hari
16.8.16
Hantu - Bagian 2
"...Itu nyata. Mungkin orang lain banyak yang tidak percaya. Tapi terserah, aku merasakan semua momen-momen itu.
Jangan kau samakan pengalaman dia dan pengalamanku. Ini kisah yang berbeda."
Aku mendengar seluruh kalimatmu seketika, di detik yang sama aku menghancurkan diriku sendiri.
Mungkin memang bukan aku yang kau ingat, katamu kau tidak bisa mengingat melainkan hanya merasa.
Tapi kau tidak pernah merasakan adanya aku.
Seperti segala hal yang kita pernah punya tidak pernah ada.
Lampu-lampu di jalan semakin menguning namun cepat dan sekelebat, semua terefleksi di mataku.
Roda yang setiap menit berakselerasi.
"Kau tidak pernah tahu masa laluku dan aku tidak pernah tahu masa lalumu, jadi berhentilah bersikap seakan kau tahu semuanya."
Kukira benar aku ini nisbi.
Jangan kau samakan pengalaman dia dan pengalamanku. Ini kisah yang berbeda."
Aku mendengar seluruh kalimatmu seketika, di detik yang sama aku menghancurkan diriku sendiri.
Mungkin memang bukan aku yang kau ingat, katamu kau tidak bisa mengingat melainkan hanya merasa.
Tapi kau tidak pernah merasakan adanya aku.
Seperti segala hal yang kita pernah punya tidak pernah ada.
Lampu-lampu di jalan semakin menguning namun cepat dan sekelebat, semua terefleksi di mataku.
Roda yang setiap menit berakselerasi.
"Kau tidak pernah tahu masa laluku dan aku tidak pernah tahu masa lalumu, jadi berhentilah bersikap seakan kau tahu semuanya."
Kukira benar aku ini nisbi.
I Feel Empty
I feel empty
Whenever I shut you down
As lift in a void
As I ever tune you out
The emptiness is bereft
A silence in the midst nothingness
It's easy for lifting
I dont want you the be the one that left out
This nothingness is sorrowful
Whenever I shut you down
As lift in a void
As I ever tune you out
The emptiness is bereft
A silence in the midst nothingness
It's easy for lifting
I dont want you the be the one that left out
This nothingness is sorrowful
5.8.16
If I Die Someday
I want A Moon Shaped Pool, Radiohead's latest album, will be looped on my funeral ceremony.
I want to hear Thom Yorke's voice on my last day on earth
I want to hear Thom Yorke's voice on my last day on earth
To convey my soul to the afterlife.
The Golden Deer
The golden deer has been crying for two hours
she mourned for the moose that she'd never know
she made precarious two hours at the bank of river
the hunter has been watching her for so long
3.8.16
I'll Show You
I'll show you;
A dainty of infinite forgiveness
The strength of love hut that I built
Unintentional patience
A home that you should belong
A dainty of infinite forgiveness
The strength of love hut that I built
Unintentional patience
A home that you should belong
Dry
I will be waiting
From minute to years,
From summer till another spring,
If you want to back in my arms over and over again
I widely open them
I will wait for you
From minute to years,
From summer till another spring,
If you want to back in my arms over and over again
I widely open them
I will wait for you
Subscribe to:
Posts (Atom)


