11.6.17

Warm

It's a warm feeling fill in my chest
when eventually I know that you're fine
you'll be fine, with someone else in your arms
you're at home that you should belong

While I'm still here, waiting for the next bus
Even rain drops over my head
I'll be home too, somewhere else

10.6.17

Kayu - Kayu dan Batu

Ini tentang ketakutan yang selalu dipertanyakan
Apa ada jiwa-jiwa yang pernah mati itu kembali pulang
Menceritakan secara detil apa saja yang pernah mereka punya
Biar kayu-kayu dan batu bersaksi, keduanya melapuk mengubur
Menempel padamu atau tumbuh di atasmu

31.5.17

Tentang Laut Dan Terpaan Angin

Laut selalu berbisik mesra di telingaku, sesuatu yang tidak pernah terucap dalam linguistik tersederhana. Tapi hanya aku yang memahaminya, bahasa kasih yang santun dan penuh irama.
Aku membiarkan biru menyelamiku, seperti aku berusaha menyelaminya serta membiarkan jingga memelukku dengan lembut.
Dan aku selalu merindu.

Saat malam tiba, bintang menggantung di atas dan laut lebih liar. Aku berada di masa dimana badai penuh kenangan menerpaku dengan hebat dan titian air mata menepak. Ini siksaan terberatku. Namun laut yang selalu bernada serupa seakan menempa apa yang pernah terjadi.
Menghapus sesuatu yang pernah ada, menyimpannya ke dasar hitam yang tidak pernah ku sentuh lagi.

Tiupkan aku menuju sesuatu yang tidak menyentuh tepian, memenuhi setiap darahku, buatku menghidupkan keajaibanku.

Jepara, Mei 2017






11.5.17

Tentang Aurora Yang Tidak Tertidur

Aku memandang wajah kelam Aurora. Dengan melihatnya, aku memahami apa maksud Peter Zilahy yang menceritakan tentang orang-orang di Belgrade. Tentang bagaimana waktu tak perlu diketahui dengan media apapun melainkan raut wajah.
Siapapun bisa melihat jauh ke dalam tatapannya yang kosong, bahwa ia tidak pernah tertidur selama seratus tahun. Kantung matanya lebih hitam dari langit malam, kulitnya lebih biru dari kedalaman samudera. Rambutnya kusut dan kacau, begitu juga pikirannya semerawut.

Berusaha menguntai kekusutan di rambutnya, bertahun-tahun aku berusaha menyelaminya. Tidak pernah ada benang berwarna merah di rambutnya yang hitam legam. Tidak juga ada benda-benda kotor dan aneh yang bisa membuatnya rusak. Hanya sangat kusut.

Aurora tidak pernah tertidur tapi bukan menunggu. Ia hanya tidak bisa atau tidak tahu bagaimana caranya memejamkan matanya. Ia tidak dapat membiarkan malam menguasai dirinya atau cahaya bulan menembus ranting-ranting oak. Singkatnya, ia hanya dipenuhi dengan kegelisahan.

Aurora kadang membenamkan diri di atas kasurnya yang usang. Di siang hari, tak jarang ia menembus pepohonan di hutan pinus atau sekedar bicara pada laba-laba yang tengah sibuk memintal benang-benang kematiannya.

Siang itu di bulan November, ia tengah berbicara pada angin yang berbisik sementara matahari enggan nampak.

"Siapa yang pernah tahu bagaimana caranya menahan rintihan?" Ia bertanya dalam bahasa-bahasa yang sebenarnya tak pernah ku mengerti tapi aku mengetahuinya dari ranting-ranting yang mati di musim gugur. Ia berbicara kepada pepohonan.

"Aku merintih hampir setiap kali, tapi tidak pernah didengar." sungut pohon Oak setengah baya melalui angin yang meniup kening Aurora. Wajahnya semakin jelas dan pucat, dingin menelusup ke baju dinginnya yang tebal, terbuat dari bulu beruang.

Aurora diam-diam mengamini pohon oak tersebut akan tetapi tidak menginginkan siapapun tahu apa yang ia rasakan. Semuanya melelahkan bagi Aurora.

Aku semakin memperhatikannya seiring juga benang-benang yang dipintal laba-laba. Ku katakan padamu sekali lagi, benang tersebut adalah benang kematian. Sekali Aurora terjerat, ia akan tidur selama-lamanya. Sebab seperti sediakala, cerita yang kau pernah dengar, bahwa Aurora harus pergi tidur sampai cinta sejati menemukannya.

Di dalam kondisi sangat terbangunnya, ia sangat pulas tertidur. Dalam kesiagaannya, ia bermimpi. Juga di dalam kewaspadaannya, ia sangat lengah dan kegelisahan itu membuat setiap paradoks terasa berkelit.

Benang-benang yang dipintal laba-laba semakin lama kian banyak, tebal dan besar. Suatu hari benang-benang itu akan digunakan Aurora untuk membungkus tubuhnya yang semakin biru. Ia tidak akan merintih lagi dalam kegelisahan dan penantiannya. Seperti yang kau tau, ia akan bangun dari elegi. Ia akan bangun karena cinta. Mungkin cinta memang tidak pernah ada di dunia ini. Atau bisa saja, cinta sejatinya adalah kematian itu sendiri.

Entah sampai kapan, namun ada masanya, sampai benang-benang itu memeluknya. Kukira laba-laba itu hampir selesai memintal.

15.4.17

Jika Kau Mengingatku

Jika kau mengingat aku dan tiba-tiba saja terlintas untuk berhenti sejenak di halaman ini
Tutuplah segera halaman ini
Karena seluruh tubuhku telah menolak bahkan kehadiran semu dirimu sekalipun

Kau sudah tidak ada di sini, tidak ada ruang sama sekali untukmu
Meskipun aku sangat kosong sekarang ini
Setidaknya, kekosonganku sekarang membuatku mengerti
Bahwa seharusnya memang bukan kau yang pernah di sini
Pergilah, lupakan bahasa kita yang sama
Aku tidak membencimu, aku hanya tidak ingin kita ada di garis waktu yang sama lagi
Tepatnya, aku tidak ingin mengenalmu

7.4.17

Satu Hari Di Bulan April

Ingat aku pernah menjadi sebeku mawar dalam hiasan resin dan aku berjanji padamu untuk menulis di suatu hari di bulan April. Aku telah memutuskan sesuatu yang sangat besar dan melepaskan segala hal yang kiranya akan membelengguku. Pada akhirnya, baik yang melukaiku atau yang kulukai, semuanya ku biarkan pergi. Aku tidak menginginkan apapun lagi.

Aku ingin semuanya menjauh lalu menemukan apa yang seharusnya aku dapatkan. Menemukan standart baru untuk diperlakukan oleh orang lain, menemukan tanpa mencari. Semuanya seperti melepaskan ikatan yang luar bisa kencang. Perih dan kebas pada awalnya, tapi semua akan berakhir melegakan dan baik-baik saja.

Tidak ada sesuatu yang baru, hanya semua berjalan seperti seharusnya. Aku belum siap memulai hubungan lagi. Semua berakhir dengan keinginanku untuk menyudahi segala bentuk patah hatiku.
Selamat datang, April!

1.3.17

Epilog

Tidak ada lagi yang harus disangsikan. Semuanya sudah begitu jelas, bahwa begitu banyak orang yang hanya sementara ada di hidupnya.

Beberapa orang akan pergi setelah memberikan beberapa memori untuk dikenang. Sementara ia akan selalu berusaha memberikan keajaiban bagi orang-orang sekitarnya.

Kemarin, ia memutuskan untuk meredup sementara, mempelajari bagaimana hati tersisik. Setelah termenung dalam gelap.

Tapi hari ini, ia tidak ingin menoleh kebelakang.

Laras sudah memutuskan untuk menghidupkan kembali keajaibannya.

25.2.17

Aku Tidak Tahu

"Tell me how- tell me, how do you want to be loved by your significant other?" 

Aku termenung. Aku tidak tahu aku ingin dicintai dengan cara yang seperti apa oleh pasanganku. Mungkin, aku membutuhkan seseorang yang dapat berkomunikasi dengan baik setiap hati. Tapi, hal itu juga dilakukan oleh bos, teman-temanku, dan banyak orang-orang lain yang ada di sekitarku.

Pasanganku tidak perlu pusing membelikanku cokelat, bunga, atau apapun yang manis, sebab aku akan membuka toko bunga sendiri kemudian aku bisa belanja bulanan bersamanya untuk membeli sesuatu yang manis. Makan malam mewah dan romantis? Aku akan membantunya mengatur keuangan dan merencanakan setiap perjalanan kita, jadi kukira aku tak membutuhkannya.

Aku lebih butuh seseorang yang siap sedia duduk di sebelahku dan membawa sekotak tissue, karena aku sangat cengeng. Aku ingin juga seseorang yang dapat bercerita secara jujur tentang apapun, karena aku suka mendengarkan dan tentunya di dengarkan. Aku ingin kami punya waktu dimana kami duduk bersebelahan, tapi tidak bicara apapun melainkan sibuk dengan dunia kami masing-masing.

Aku tidak tahu bagaimana aku ingin dicintai, tapi aku ingin seseorang yang mau mendengar dan didengarkan. Aku ingin sampai ku tua nanti aku tidak kehabisan cerita tentang apapun. Aku ingin berbagi kepadanya segala hal yang aku sukai, dan ku harap ia juga berbagi tentang hal yang ia sukai padaku. Jujur, aku tidak ingin seseorang yang memiliki dunia yang sama denganku. Aku ingin dalam rumahku kelak ada begitu banyak warna dan cerita. Aku ingin seseorang yang dapat memberikanku berbagai pandangan dan berbagi berbagai masa. Aku ingin sedih dan senang bersama, aku ingin kecewa dan puas juga bersama. Aku ingin kesamaan, aku ingin dihargai,

Karena sekali aku mencintai seseorang. aku juga mencintai keinginan dan egonya, kelemahan dan kekurangannya, cara tetawanya dan kemurungannya. Aku ingin mencintai seseorang dengan setulus hati.

Tapi jujur, aku tidak tahu bagaimana aku ingin dicintai.

24.2.17

I Love You

I'd never choose to forget
I choose to forgive
Because giving is better than getting

No one will be comprehend
The pain that tortued
Neither I am

Scars are fine
At the end of the day
When the wound is dry
It will be a beautiful story

21.2.17

Tentang Memoar

"Apa yang membuatmu menilai seseorang itu cukup kaya, Laras?" tanya Siska sambil menyesap tehnya.

"Memori mereka." jawab Laras.

"Bagaimana kau bisa mengatakan demikian?"

"Memori adalah sebuah kekayaan dari individu, Siska. Memori menunjukan berapa jauh jalan yang seseorang pernah tempuh, berapa banyak orang yang pernah mereka temui, atau berapa banyak musik yang mereka dengar, buku yang di baca, film yang ditonton. Memori menyimpan semuanya, setiap detik selalu bertambah. Tapi, kalau seseorang menambahkannya dengan sesuatu yang banal, itu tidak memperkayanya. Sebab ia sudah memilikinya."

"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mencoba melupakan?" tanya Siska.

"Mereka orang-orang yang memilih untuk tidak pernah bertumbuh, Siska."

19.2.17

Summer in February

It only took one fine Friday evening
A sad traffic
Small talks about Great Depression to Apollo 11
Intertwined heart and love-hurt experiences
A tiny blue speck
Two beers
Cold upper my skin

You're imperfect, 
and you're wired for struggle, 
but you are worthy of love and belonging

Shuffled songs
Slow dance
Embraced me, you
Kisses on forehead

"Are you happy today?"
I answered nothing, but I smiled,
one big smile from ear to ear
"You smiled. Means that you're happy."
You landed another sweet kiss on my hair

A ride to home
Tight hug inside your grey coat
Talking about paradoxes and night owls
You said you were jubilant

Arrested.

You know, I'm not in love with you
But a void inside filled
As an oxygen filled my lungs
Don't set me free

12.2.17

My Girl She's Like A Song



I will never ever fall in love
If I never ever heard her on the radio

3.2.17

Nana

Maria Fumaca não canta mais 
Para moças flores Janelas e quintais 
Na praça vazia um grito um oi 
Casas esquecidas viúvas nos portais
- Milton Nascimento

1.2.17

Tetap wujudkan mimpimu, Larasati
Jangan menyerah


 

The Corrections by Jonathan Franzen p. 279

And when the event, the big change in your life, is simply an insight - isn't that a strange thing?
That absolutely nothing change except that you see things differently and you're less fearful and less anxious and generally stronger as a result: isn't it amazing that a completely invisible thing in your head can feel realer than anything you've experienced before? 
You see things more clearly and you know that you're seeing them more clearly. 
And it's come to you that this is what it means to love life, this is all anybody talks seriously about God is ever talking about. 
Moments like this.

25.1.17

Tentang Karma Buruk

Karma buruk tidak seharusnya terjadi pada siapapun.
Aku sangat tidak menyukai sumpah serapah yang mendahulukan semesta seperti;
"Biarkan saja karma buruk kelak datang padanya!"
Aku tidak pernah marah bila ada orang yang menyumpahiku demikian, tapi aku tidak menyukai orang lain mengucapkan itu untuk orang yang ia tidak sukai. Menurutku, itu tindakan membenci yang tidak masuk akal.

Setiap kali aku menangis karena terluka oleh orang lain, orang-orang di sekitarku hampir semua mengatakan, "Tenang saja, suatu hari karma akan menimpanya."
"Tidak, aku tidak ingin hal buruk dan kepahitan seperti ini terjadi padanya," jawabku.

Aku tidak pernah setuju dengan hal itu karena aku selalu percaya, orang-orang yang datang dan berinteraksi denganku sudah atau akan mengalami berbagai hal dalam hidupnya.
Mungkin, kalau mereka mengalami kepahitan sepertiku, mereka tidak akan mampu melaluinya.
Atau mungkin, mereka telah mengalami kepahitan yang tidak pernah dan tidak akan pernah mampu aku alami.

Yang aku pelajari sekarang adalah bagaimana menghadapi setiap kesedihan karena orang-orang lain yang memberikanku pengalaman tidak mengenakan. Bagaimana caranya bekerja sama dengan diriku sendiri untuk tidak mengharapkan orang lain bersikap manis padaku.

Aku tahu, tidak mudah menjadi gadis tidak cantik, banyak sekali perlakuan tidak adil dan semena-mena terjadi pada gadis-gadis yang kurang menarik, tapi hal-lah buruk juga terjadi pada orang-orang yang berwajah menyenangkan. Seperti hujan yang turun bagi orang yang baik maupun jahat atau matahari yang bersinar untuk orang adil dan mereka yang curang.

Aku tahu, pemikiranku ini utopis, tapi aku tidak mau hal-hal buruk seperti apapun terjadi pada orang yang berarti untukku.

17.1.17

how could this love ever turning 
never turn its eye on me
how could this love ever changing 
never change the way I feel
Beck - Lonesome Tears (2002)

15.1.17

Sebeku Mawar Dalam Hiasan Resin

Kenapa kita tidak bisa memilih orang yang kita cintai?
Aku sudah memaksakannya, mencari segala macam hal-hal yang bisa kusukai darinya. Aku melihat hal-hal fundamental dari dirinya untuk ku sukai.
Pria ini secara fisik sangat menarik, cukup tinggi untuk mengimbangiku menggunakan sepatu bertumit tinggi, senyumnya sangat manis, kulitnya sedikit terbakar karena suka berolahraga, tubuhnya cukup atletis. Ia sangat ramah, berwawasan luas dan sangat sopan. Stabil dari segi finansial, pekerjaan yang baik, sudah mengantongi beberapa gelar pendidikan, menjadikan ia seseorang yang seharusnya ku sukai semudah membalikkan telapak tangan.

"Seandainya aku bisa, sedikit saja membalas perasaanmu," kataku pelan. Sangat pelan karena aku takut sekali melukainya. Pria ini seharusnya mendapatkan seorang gadis yang satu juta kali lebih daripadaku, ia sangat berhak mendapatkannya.

Ia hanya tersenyum kecil dengan tatapan nanar. Kulihat ia menyerah.

"Aku tidak bisa memaksa kan?" tanyanya yang hanya memberikan pernyataan.

"Aku sudah berusaha dan aku belum berhasil. Aku tidak mau menyakitimu meskipun aku sudah melakukannya tanpa sengaja," jawabku hampir menangis.

"Ayo, ku antar kau pulang. Biarkan aku mengerti perasaanmu. Kau sudah merelakan orang yang sangat penting buatmu, biar aku menahan sedikit keinginanku untuk bersamamu." katanya dengan lembut. Kemudian ia merangkul bahuku.

Dua hari kemudian, Pak Pos datang ke kediamanku menyampaikan sepucuk surat dan sekotak kecil hadiah berwarna biru yang ditujukan untukku. Seusai aku mengucapkan terimakasih, aku berlari ke kamarku.

Aku membuka surat tersebut dengan hati hati, tulisan yang rapi dan klasik.

Untukmu,

Biarkan saja aku mencintaimu. Aku tidak meminta apapun lagi darimu. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku juga, sebab aku tahu, itu hal yang sangat berbeda. Ku mohon, jangan pula kau merasa kasihan padaku, apalagi hingga kau sedih seperti waktu kemarin. Jangan kasihan padaku, sebab mencintai orang sepertimu bukan suatu hukuman dan aku sama sekali tidak menderita. Sebaliknya, aku justru semakin bertumbuh. 

Setiap kali aku mencintai seseorang, aku terus belajar. Aku menyukai caramu yang tertawa dengan bebas dan aku mengerti bahwa aku tidak akan menjadi alasan mengapa kau tertawa. Aku menyukai caramu berekspresi, melalui gambar atau melalui lagu-lagumu yang terus ku putar di spotify meskipun aku tahu, aku bukan yang kau pikirkan saat kau menuangkan semuanya. Aku mencintai setiap sentimeter sanubarimu dan menyadari bahwa aku tidak pernah menjadi bagian dari hal itu. "Aku mencintaimu" dan aku belajar untuk menyadari kalau kau tidak pernah mengatakan hal itu untukku.

Karena kau sendiri yang mengajariku, ketikaku mencintai seseorang aku harus bersungguh-sungguh tanpa mengharapkan kembali. Cinta satu arah, semua tentang memberi. Itu katamu dan kukira itu benar. Ketika aku mencintai seseorang, hati akan selalu memberi tanpa pamrih, dan sepongah apapun idealismeku, aku akan menyerah tanpa perlawanan. Sehingga, satu pintaku untukmu. Biarkan aku mencintaimu meskipun kau sebeku mawar dalam hiasan resin.

Air mataku meleleh dan aku menangis lagi tanpa suara. Ini kali kedua atau ketiga aku merasakan sepahit ini tidak bisa membalas cinta untuk orang lain. Kemudian aku membuka kotak berwarna biru. Di dalamnya ada hiasan resin yang di dalamnya terhadap awetan mawar kecil. Entah ia menemukannya dimana.

"Tuhan, biarkan aku bisa mencintai orang yang sungguh-sungguh mencintaiku." aku berdoa dan segera menghapus air mataku.

Tak lama aku menekan layar ponselku, menghubunginya.

"Hei." sapaku berusaha tidak tengah tersedu.

"Hei. Ada apa?" suaranya sangat ramah saat menjawab telepon dariku.

"Aku sudah menerima kiriman darimu. Terimakasih kau sudah mau repot-repot." kataku berusaha menyusun kata-kata.

"Lalu?" tanyanya.

"Berikan aku waktu untuk membereskan diriku sendiri. Mungkin kita bisa bertemu tiga bulan lagi di tanggal yang sama dengan hari ini?" tanyaku.

"Apapun bisa terjadi dalam tiga bulan kan, Laras?" tanyanya dengan lembut.

"Apapun bisa terjadi. Kau bisa menjinakkan perasaanmu atau mungkin aku yang jatuh cinta padamu." jawabku tenang.

"Tapi bagaimana kalau keadaannya berbalik? Kau nanti patah hati lagi." Ia terdengar sangat khawatir.

"Tak apa. Kalau keadaannya berbalik, aku belajar dan bertumbuh juga karenamu." kataku.

"Ini alasan mengapa aku selalu menyukaimu." katanya.

"Apa kau tengah sibuk?" tanyaku, aku khawatir sedang mengganggunya.

"Ya, sebenarnya aku sedang di tengah-tengah sesuatu. Tapi, baiklah, bulan April ya?" ia memastikan.

"Tentu. Satu hari di bulan April. Sudah dulu ya, sampai jumpa!" pamitku.

"Iya, sampai jumpa." katanya. Kemudian sambungan teleponku putuskan.

Aku akan merapikan semua kekacauan yang ku buat.
Ingatkan aku, satu hari di bulan April, aku akan menulis lagi tentang ini.



21.12.16

Fatal

Mungkin kau benar, aku ini hanya ingin memerangimu, bukan mencintaimu. 
Kau paling komprehensif dalam memahami keadaan kita, tetapi hanya aku yang merasakan.
"Lihat dirimu, hancur, merana." katamu, itu benar. 
Tidak ku temukan kesalahan sama sekali dalam pendapatmu, tidak juga ku temukan kesalahan keputusanmu untuk pergi menjauh dariku.
Hanya aku yang kerasukan jiwa yang kosong, tapi peluru merasuk hingga ke sumsum tulang belakangku.
Ini semua salahku yang terlanjur fatal, tak henti aku terus menerus memerangimu.

20.12.16

Untuk Hati Yang Belum Menyerah

Hati,
harus sampai kapan diam di situ tidak menyerah?
Enggan terlelap tapi terlalu lelah untuk tidak terpejam
Tidak pernah mau mengerti bagaimana bulir bulir darah dan air mata tertumpah
Aku mulai menulis kolom obituarimu, hati
Tapi kau belum mati dan enggan berlabuh
Di tengah lautan luas dan hampir tenggelam
Tapi rupanya belum padam juga
Aku ingin memilikimu, sekali lagi

13.12.16

Tentang Keinginan Menjadi Seorang Ibu

Ini ideku sendiri yang sangat relatif terwujud tapi juga sangat konservatif. Mungkin dalam satu dekade mendatang, mungkin dalam 15 tahun, atau mungkin memang tidak akan pernah terjadi. Tidak apa-apa, sebab mimpi tidak harus selalu terwujud, yang paling penting aku berusaha untuk mewujudkannya.

Aku ingin menjadi seorang ibu kalau aku sudah siap nanti. Aku ingin sebuah keluarga kecil yang dapat menjadi alasan untukku pulang ke rumah. Tapi hal yang paling sederhana, aku ingin menjadi seorang ibu.

Tidak peduli dengan populasi dunia yang sudah penuh sesak, aku ingin sekali saja seumur hidupku mempunyai kebanggaan dan menikmati keistimewaan menjadi seorang wanita, yaitu mengandung. Aku hanya ingin sekali saja, tidak ingin lebih. Tidak apa merasakan rasanya perih, karena toh itu tidak membunuhku atau menyakiti orang lain.

Kelak kalau ku memiliki seorang anak, aku akan belajar tentang memberikan sesuatu dengan sangat tulus, tanpa persyaratan, tanpa meminta ia mengembalikannya. Aku juga akan mengimplementasikan apa itu maaf yang paling mendasar, atau sekedar apa itu memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diriku sendiri. Aku akan mencintainya dengan seluruh tenagaku tetapi tidak apa-apa kalau dia hanya mencintaiku kurang dari sepuluh persennya, karena itulah cara kerja cinta.

Kelak kalau aku memiliki seorang anak, aku tidak akan pernah memanjakannya. Aku hanya akan mengajarinya, memberikan dia bekal atau pandangan yang luas, memberikannya pilihan beserta konsekuensinya. Aku tidak akan memaksanya mengambil suatu pilihan hanya untuk kebanggaanku sendiri. Oleh sebab itu, sedari dulu aku suka sekali belajar, aku ingin pengetahuanku luas, aku ingin melihat dan mengerti dunia dari berbagai sisi sehingga aku dapat berdiskusi dengan anakku mengenai berbagai pilihannya.

Anakku kelak tidak perlu menjadi dokter kenamaan, seniman hebat, astronot, atau musisi terkenal. Ia bebas menjadi apa saja, sejauh ia memberikan lebih banyak kontribusi dalam upaya penyelamatan dunia. Tidak, anakku tidak akan menjadi manusia super, ia hanya akan ku ajari caranya mencintai lingkungan dan hewan, tidak melukai perasaan orang lain, penuh maaf dan kasih, dan aku akan lebih berbangga lagi kalau ia bisa membantu orang lain. Tidak apa ia hanya menjadi karyawan biasa dengan penghasilan minim, sejauh ia menikmati apa yang ia kerjakan. Dalam hematku, ini adalah pekerjaan yang berat bagi bakal manusia ini.

Aku tidak tahu kapan mimpi ini akan terwujud, yang aku tahu hal ini masih sangat lama. Akupun perlu berbekal lebih banyak ilmu dan pengalaman untuk membentuk manusia seperti itu. Usiaku sekarang 23. Temanku ada yang pernah berkata, bahwa dalam waktu 10 tahun apapun bisa terjadi. Bahkan dalam kurang dari sepuluh tahun mungkin aku sudah tidak ada lagi di bumi ini.

Tidak tahu.

9.12.16

Mantra Ajaib

Kukira aku telah menguasai satu mantra paling efektif dan manjur. Mantra ini berguna untuk mengusir orang-orang yang ku harap akan segera pergi dari kehidupanku. Mantra ini sangat ampuh bagi orang yang paling dekat denganku.

Awalnya, aku mengira mantra ini akan bekerja sesuai dengan bahasa yang ku mengerti kemudian aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Banyak orang sangat penasaran dengan mantra rahasiaku. Sayangnya, mantra rahasiaku ini baru bisa mujarab setelah banyak pengalaman yang kulalui.

Temanku bertanya dengan penasaran, "Apakah mantra ajaib itu?" sebab ia sangat ingin mengusir hal-hal yang tidak baik yang terjadi padanya.

Aku hanya tersenyum, "Kau tidak bisa sembarangan melafalkan mantra ini. Kadang ini bekerja baik padaku tapi kadang justru sebaliknya. Hati-hati dengan mantra ini, sifatnya seperti dua mata pisau." Aku memperingatkan.

"Kalau begitu, aku tidak jadi ingin tahu karena sepertinya mantra ini sangat menyeramkan," ucapnya dengan ragu.

"Pengalamanku sih begitu." sahutku pelan.

Temanku kemudian berlalu, sementara aku bergeming dengan tatapan nanar dan kosong. Aku mencari celah yang ternyata masih belum ada di dalam diriku. Aku sangat padat dan sesak hingga aku sulit sekali bernapas. Ku hampir mengucapkan mantra itu lagi, mantra yang paling jujur dan ternyata membuatku menderita sampai hari ini.

Tanganku terkepal, tidak ada sesuatu yang lebih berarti daripada hal ini. Tanpa sadar aku mengucapkan mantra itu sekali lagi. Ku tahu pelafalan mantra itu akan membuat aku bertambah sesak dan orang yang kurindukan ini semakin menjauh.

Aku mengucapkannya. Ini terjadi sungguhan, dan kini ku lihat punggung orang itu dalam mimpiku. Air mataku berlinang lagi. Belum ada celah sejak orang itu berlayar, meskipun ia kini semakin asing dan asing.

"Aku merindukanmu, belum sedikitpun rasa ini berkurang. Aku belum kurang mencintaimu," aku merapalkan mantra itu sekali lagi dan kemudian aku melihat tubuhku menjadi kapas kapas dan naik ke angkasa.
Sementara orang itu kini semakin tidak terlihat di antara lautan yang lepas dan dalam.

Pergilah.

2.12.16

Tentang Sayap-Sayap Yang Takut Pada Angin

Dalam mitologi Yunani kuno dikenal seorang pembawa pesan antara Dewa dan Dewi dengan manusia bernama Iris. Ia selalu dilambangkan dengan pelangi, seiring dengan bertemunya matahari dengan bumi selepas langit dirundung kesedihan. Iris selalu berusaha menyampaikan banyak kabar baik kepada makhluk bumi. Iris dalam deskripsi orang awam berwajah sangat datar, memiliki sayap untuk mengakomodasinya dari satu tempat ke tempat lain dan dari tangannya sering keluar spektrum warna yang cantik guna menyampaikan berbagai kabar.

Suatu hari di pertengahan musim dingin, Iris, sang pembawa pesan menjatuhkan sayapnya ke atas bumi. Tidak apa-apa ia memang sengaja ingin membuang sayapnya ke atas bumi, toh, suatu hari nanti kalau Iris mau, ia bisa menumbuhkan sayapnya kembali. Kebetulan sepanjang tahun ini pekerjaan Iris sangat melelahkan, ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu sesingkat mungkin dan hal itu membuat sayapnya jadi cepat usang.

"... tapi Iris, aku masih sanggup menemanimu berpergian," pinta sayap kiri Iris. Iris hanya tersenyum dengan bijaksana.

"Kau mungkin masih sanggup, sayap kiriku yang gigih, tapi sayapku harus bekerja seimbang kiri dan kanan," kata Iris.

"Maksudmu, kau bilang aku tidak bekerja dengan baik?" tanya sayap kanan dengan datar, sedikit banyak ia merasa tersinggung.

"Kalian berdua telah bekerja dengan baik, rajin, patuh dan hebat, sayap-sayapku. Aku berterimakasih kepada kalian. Tapi aku harus beristirahat setelah sepanjang tahun ini lelah menyampaikan berbagai macam pesan." kata Iris dengan sabar.

"Apa yang akan terjadi pada kami kalau kami tak lagi bersamamu, Iris?" tanya sayap kiri Iris dengan khawatir.

"Kalian akan baik-baik saja. Kalian akan terjun ke bumi dan kalian akan menjadi sesuatu yang sama sekali baru," jawab Iris.

"Tapi kami sesungguhnya takut, Iris." sayap kanan mengakuinya. Ia bergumam nyaris tidak terdengar.

"Apa yang kalian takuti?"

"Angin," jawab mereka hampir serentak.

Iris terbelalak. Bagaimana mungkin mereka berdua justru takut dengan teman baiknya selama ini. "Bagaimana mungkin kalian takut pada angin yang sangat hebat itu?" tanya Iris.

"Menurutku ia kasar, kalau tidak ada kau, ia pasti membawa kami kemanapun yang ia suka. Berapa kali kami harus berusaha sekuat tenaga melawan angin. Mereka sangat menusuk dan menyakitkan kami." sayap kanan dengan jujur mengatakannya.

"Sekarang apa lagi yang membuat kami usang kalau bukan karena tekanan udara yang kejam dan angin yang tidak mengenal ampun." tambah sayap kiri khawatir.

Iris tersenyum. "Ku kira inilah saatnya kalian mengenal Tuan Angin dengan lebih baik." Sahut Iris. Satu persatu ia melepaskan sayapnya. Di mulai dari sayap kanan yang jauh lebih tenang dari segi emosi dan kemudian sayap kiri yang lebih meledak-ledak.

"Kalian sangat baik dan hebat, kelak kehidupan di bumi akan memberikan kalian hal yang baik juga. Berjanjilah padaku kalau kalian akan menjadi sayap-sayap yang hebat dalam wujud apapun itu," bisik Iris pada kedua sayapnya yang tampak tak rela melepaskan Iris.

"Kami akan merindukanmu, Iris. Selamat tinggal!" salam kedua sayap itu.

"Selamat tinggal," jawab Iris yang kemudian melepas kedua sayap itu sehingga mereka terjatuh bebas ke atas bumi.

Kedua sayap itu jatuh tanpa terkendali memasuki bumi. Sayap-sayap itu kemudian bertemu kembali dengan angin yang kasar dan angkuh. Mereka berdua terhantam dan terpukul tanpa bisa melawan karena angin sangat kasat mata. Hingga angin berbisik kepada mereka, menyambut kedatangan mereka ke bumi.

"Halo, Yang terbuang! Pemilik kalian sudah membenci kalian ya?" tanya angin dengan kasar yang menghembus mereka berdua.

"Tidak, Iris tidak membenci kami. Kami memberi Iris kesempatan untuk beristirahat," kata sayap kiri dengan berani.

"Sungguh?! Lalu kenapa kalian tampak muram? Apa kalian takut padaku?" tanya angin.

Kedua sayap itu tampak gamang, sedikit banyak mereka ingin mengakuinya, tapi mereka harus tampak gigih dan berani seperti saat bersama Iris.

"Tidak. Kami tidak takut padamu bahkan kami tidak takut apapun dan kami berdua adalah sepasang sayap yang hebat." jawab sayap kanan. Mencoba menghapus setiap ketakutan yang mereka berdua sebenarnya miliki.

"Ah ya, mari kita lihat apa kalian masih cukup berani bila kalian berdua terpisah." ide angin yang kemudian meniup mereka ke dua hemisfer yang berbeda.

Tanpa sempat mengucapkan kata perpisahaan, kedua sayap tersebut ke dua tempat yang berlawanan sehingga sangat tidak mungkin untuk mempertemukan mereka berdua. Kedua sayap itu menjadi sangat lemah dan semakin lemah hingga mereka tak berdaya tersungkur kepermukaan bumi yang amat permai.

Saat menyentuh permukaan bumi, sayap-sayap itu berubah menjadi bentuk yang lain. Sayap kanan lebih beruntung, saat ia menyentuh permukaan bumi, ia berubah menjadi seekor elang alap yang mampu terbang tinggi dengan gagahnya. Sayap kanan membutuhkan angin hampir sepanjang waktunya. Saat itu, sayap kanan juga menyadari bahwa angin sangat baik hati, hanya saja memang angin sangat usil dan sedikit sombong, tapi tak apa karena itu yang membuat angin sangat menarik dan menjadi sahabat karibnya.

Akan tetapi nasib tidak terlalu baik kepada sayap kiri yang menjadi manusia saat ia menyentuh permukaan bumi. Ia termenung di jendelanya, mengamati angin yang bertiup di antara dedaunan dan membawa daun-daun tersebut pergi entah kemana. Cuaca memang sedang tidak baik di luar dan memaksa sayap kiri tetap tinggal di ruangannya yang hangat dengan secangkir kopi dan kesendirian. Ia masih muram, membenci angin, dan tersenyum sekedarnya kepada siapapun.

Kadang ia masih suka bermimpi tentang sayap kanan, tentang Iris dan pelangi-pelanginya, atau apapun dalam kesendiriannya. Kadang ia berpikir, seandainya saja Iris tahu apa yang sayap-sayapnya alami, pasti Iris menyesal melepaskan mereka berdua.
Sayap kiri tak pernah menyukai ide tentang kategorisasi, pemecah-belahan ataupun pengasingan, mungkin karena ia adalah produk kesengsaraan dari sebuah perpisahan. Ia menyukai segala ide tentang kesatuan, ketidakpecahbelahan, dan kesamaan.
Fakta pahitnya, tidak ada satupun manusia yang benar-benar rigid menjadi satu atau benar-benar terpisah. Pandangan samar-samar ini membuatnya gusar. Mungkin itu juga yang menjadikannya ia hanya percaya pada kesatuan yang paling utuh, yaitu dirinya sendiri.

Sayap kiri tetap sendiri dalam setiap kemurungannya. Sayap kiri tidak tahu bahwa selama ini angin berbisik padanya bahwa angin sangat ingin bersahabat dengannya. Kadang memang angin tidak pernah tahu bagaimana cara menyampaikan niat baiknya pada sayap kiri sebab ia lebih dingin daripada daerah sebelah timur Antartika. Sayap kiri menghindari angin, membencinya.

Kadang angin berusaha meniup sejuk di wajah sayap kiri yang kemudian hanya dibalasnya dengan tundukan kepala. Kadang angin bersama lebah-lebah dan burung-burung isap madu dan kolibri menunjukan padanya bunga-bunga aneka warna yang bersemi tapi sayap kiri tidak pernah menyadarinya. Kadang angin usil membawa kabur topi atau kertas-kertas yang ia pegang, namun yang didapatkan angin hanya caci maki kebencian dari sayap kiri.

Sayap kiri tidak pernah tahu angin hanya ingin meminta maaf dan ingin memulai persahabatan dengannya.
Sayap kiri tidak pernah tahu, atau barang kali, belum tahu.


Jakarta, Desember 2016


28.11.16

Hantu - Bagian 3

"Jangan memaksakan kehendakmu. Semuanya akan menjauh, sepertiku. Jangan memaksa." Kau mengatakannya memintaku untuk melepaskanmu.

Aku menyerah dan memberikanmu senyuman paling baik. Air mataku sudah habis, segala hal mengenaimu semakin menjauh dari realita terkasarku, namun semakin mendekap realita terhalusku.
Tidak pernah ada yang tahu apa yang membuatku mencintaimu dan itu akar setiap permasalahannya. Mungkin ada sejuta hal yang membuatku kagum padamu dan itu membuatku semakin mencintaimu.
Tapi ada satu rasa yang tidak pernah berubah, jauh di kedalaman dan kegelapan sudut batinku.
Satu rasa yang bersifat searah, yaitu tentang memberi. Aku hanya ingin memberi semua hal yang aku punya untukmu, tapi ternyata lima ratus persenku hanya lima persen untukmu. Memberikanku terlalu sedikit waktu.

"Tapi kita sebenarnya hanya sebentar, bagaimana bisa pengalaman kita terlalu banyak buatmu?" Tanya kau yang seperti tidak punya ingatan apapun tentangku.

"Aku tidak lupa sedikitpun pengalaman kita, bagaimana bisa kau tidak mengingatnya sedikitpun?" tanyaku lirih.

"Sebaliknya, aku tidak ingat apapun mengenai kita," Kau mengatakannya seakan aku ini lebih tak terlihat daripada angin yang menyentuh wajahmu.

Aku terkatung sendirian. Lama. Air mata telah kering, tapi luka semakin membusuk di dalam.

"Aku akan menunggu untuku, sampai batas waktuku," kataku.

Sekarang satu-satunya yang bisa kulakukan hanya memberikan kebebasan dan kedamaian untukmu. Aku tidak sejengkalpun pergi atau menjauh. Aku hanya akan tetap menunggu, sampai tidak ada lagi yang bisa kusisakan bahkan dalam jejak-jejak bayanganmu sekalipun.

"Jangan menungguku, aku tidak akan pernah kembali lagi padamu," katamu.

Menunggumu adalah satu-satunya hal yang tidak aku paksakan. Aku membiarkannya begitu saja, biar rasa ini yang menjawab semuanya juga. Mungkin aku memang hantu buatmu yang terlalu dalam di ketiadaanmu.
Terlalu tidak cukup untukmu.

7.11.16

Berhenti Menyalahkan Siapapun

Untuk selalu menyisakan sesuatu yang tidak pernah ada
membiarkan semua cerita remuk redam
dan kau kini menjadi hantu paling menyeramkan dalam hidupku
sekaligus godaanku setiap kali melihatmu ada
kau seperti sesuatu yang harus ku bunuh
karena aku remuk redam tiap kali melihatmu
bukan salahmu untuk pergi
ini salahku karena membiarkan diriku jatuh dengan harapan akan kau tangkap
aku jatuh begitu saja
sehancur gelas-gelas kaca